Jumat, 04 Juni 2010

WEWENANG DAN DELEGASI

Di dalam berorganisasi, peranan wewenang yang bijaksana sangat amat diperlukan. Dengan pemakaian wewenang tersebut, akan didapatkan kepercayaan dari anggota organisasi terhadap pemimpin, namun itu terlaksana jika pemimpin menggunakan fungsi dan tujuan wewenang dengan se baik – baiknya. Dengan menggunakan wewenang sesuai tempatnya maka akan timbul suatu istilah delegasi atau dengan istilah umum perwakilan tugas.

A. WEWENANG
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, istilah wewenang berarti hak, kekuasaan. Sesuai dengan perkembangan pola pikir manusia, wewenang diartikan hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu.
Jika diibaratkan bahwa wewenang identik dengan seorang pemimpin, maka terdapat dua pandangan yang saling berlawanan mengenai sumber wewenang, yaitu:
1. Teori formal ( pandangan klasik )
Wewenang adalah dianugerahkan, wewenang ada karena seseorang diberi, dilimpahi atau diwarisi hal tersebut. Pandangan ini menganggap wewenang berada pada tataran masyarakat tertinggi dan kemudianakan diturunkan dari tingkat ke tingkat sesuai hukum yang berlaku.
2. Teori penerimaan ( pandangan penerimaan )
Teori ini bertolak belakang dengan teori klasik teori ini berpendapat bahwa wewenang seseorang timbul hanya bila hal itu diterima oleh kelompok atau individu kepada siapa wewenang tersebut dijalankan. Teori ini menyatakan kunci dasar wewenang ada dalam yang dipengaruhi, bukan yang mempengaruhi. Jadi wewenang itu ada atau tidaknya bergantung pada penerima, dimana penerima tersebut berhak menerima atau menolak. Chester Bernard menyatakan dan mendukung teori ini dengan mengemukakan “ Bila suatu komunikasi direktif diterima seseorang kepada siapa hal itu ditujukan wewenang untuknya tercipta atau ditegaskan.   

Membahas masalah wewenang tentu tak luput dari masalah kepemimpinan dan kekuasaan. Untuk itu, tidak ada salahnya jika kita juga membahas sedikit tentang kekuasaan. Dimana kekuasaan dapat diartikan kemampuan untuk mempengaruhi individu, kelompok dan kejadian. Ada pula yang mengartikan kemampuan untuk melakukan hak yang ada dalam wewenang.
Jika diidentikkan dengan seorang pemimpin maka wewenang merupakan suatu hak yang paling tinggi dan frontal. Pemimpin dituntut secara obyektif menggunakan wewenang sesuai dengan batasannya, juga harus disertai alasan – alasan yang mendasari sebuah keputusan dari bagian wewenang seorang pemimpin tersebut.

Seorang pemimpin harus berani menggunakan insting dan metode pengalaman untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam menggunakan wewenang. Salah satunyya adalah mengambil keputusan secara tepat dan cepat. Dimana hal ini akan mempengaruhi kondisi mental para bawahan, meskipun ini secara tidak langsung. Pemimpin dianjurkan menerima masukan – masukan dari lingkungan sekitar guna mendukung insting seorang pemimpin dalam mengambil suatu keputusan. Namun dalam setiap kebijakan pasti akan ada pro dan kontra. Dan hal ini adalah wajar, karena keputusan untuk tujuan bersama suatu organisasi memang sangat penting dan harus diutamakan dari pada kepentingan atau tujuan pribadi. Tinggal pemimpin harus bisa bersikap pada kaum minoritas, memperhatikan perasaan dan mental kaum minoritas tersebut agar nantinya mereka tidak patah semangat hingga mencapai tujuan organisasi yang telah disepakati bersama. Begitu juga sebagai anggota, hendaknya dapat menerima dengan lapang dada akan suatu keputusan.

Kembali pada masalah kekuasaan. Menurut Amitai Etzioni seorang pemimpin dapat mempengaruhi perilaku adalah hasil dari kekuasaan posisi ( kedudukan atau jabatan ) dan kekuasaan pribadi atau kombinasi dari keduanya.

a.Kekuasaan Posisi
Didapat dari wewenang formal suatu organisasi. Besarnya kekuasaan ini tergantung seberapa besar wewenang didelegasikan kepada individu yang menduduki posisi tersebut. Kekuasaan posisi akan  semakin besar bila atasan telah mempercayai individu tersebut.

b.Kekuasaan Pribadi
Di lain pihak didapatkan dari para pengikut dan didasarkan atas seberapa besar para pengikut mengagumi, respek dan merasa terikat pada seorang pemimpin.

Ada banyak sumber kekuasaan, sumber kekuasaan dapat diklasifikasikan atas dasar sumbernya seperti : balas jasa, paksaan, sah, pengendalian informasi, panutan dan ahli. Ke – enam sumber tersebut dijelaskan secara terperinci sebagai berikut :
1. Balas Jasa
Berasal dari sejumlah balas jasa positif ( uang, perlindungan, dsb ) yang diberikan kepada pihak penerima untuk melaksanakan perintah atau persyaratan lainnya.
2. paksaan
berasal dari perkiraan yang dirasakan orang bahwa hukuman ( dipecat, teguran, dsb ) akan diterima bila mereka tidak melaksanakan perintah pimpinan.
3. Sah
Berkembang dari nilai – nilai intern yang mengatakan bahwa seorang pimpinan mempunyai hak yang sah untuk mempengaruhi bawahan.
4. Pengendalian Informasi
Berasal dari pengetahuan dimana orang lain tidak mempunyainya. Cara ini digunakan dengan pemberian atau penahanan informasi yang dibutuhkan.
5. Panutan
Didasarkan atas identifikasi orang – orang dengan seorang pimpinan dan menjadikan pemimpin itu sebagai panutan atau simbol.
6. Ahli
Merupakan hasil dari keahlian atau ilmu pengetahuan seorang pemimpin dalam bidangnya dimana pemimpin tersebut ingin mempengaruhi orang lain.

Dari penjelasan diatas diharapkan pemimpin dapat dengan tepat dan cepat dalam mengambil keputusan sesuai wewenang yang ada dan tidak mengurangi kharisma pribadi atau wibawa seorang pemimpin tersebut. Sebagai contoh yang terjadi di lingkup pemerintahan adalah pada saat presiden Susilo Bambang Yudhoyono dilantik menjadi presiden.

Setelah SBY diumumkan memenangkan pemilu 2004 dan dipastikan menjadi presiden terpilih, presiden Megawati mengirim surat ke DPR yang isinya ingin mencalonkan Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menjadi Panglima TNI, menggantikan Jenderal TNI Endriartono Sutarto yang akan pensiun. Surat itu dikirim pada tanggal 8 Oktober 2004, dua minggu sebelum SBY dilantik menjadi presiden.

Jenderal Ryamizard adalah salah satu putera terbaik TNI, dengan berbagai jabatan strategis yang pernah disandangnya. Yang menjadi masalah bagi SBY bukanlah kompetensi atau pribadi Jenderal Ryamizard, namun masalah prosedural dan politis yang akan ditimbulkan. Karena jabatan panglima TNI sangat strategis dan tidak dapat diatur dalam paket politik namun harus murni dipilih sendiri oleh presiden dan bukan oleh presiden yang akan lengser beberapa minggu lagi. Presiden juga mengantisipasi dan ingin meredam gejala untuk menarik TNI dalam panggung dan gelanggang politik.

Maka, SBY mengambil keputusan untuk memperpanjang masa jabatan beliau selama setahun. Ada berbagai alasan yang mendasari keputusan tersebut. Pertama, kepercayaan SBY terhadap Jenderal TNI Endriartono sangat tinggi. Presiden SBY melihat ketegasan beliau dalam mencegah tangan – tangan politik masuk dalam lingkup TNI. Kedua, SBY memperlukan beliau dalam misi perdamaian di Aceh. Presiden melihat bahwa beliau memiliki visi dan misi yang sama, yakni dengan cara perundingan untuk mencapai solusi politik damai yang tetap menjamin Aceh di bawah NKRI

Hal ini menunjukkan kriteria pemimpin yang telah mampu mengambil suatu putusan yang cepat, tepat dan cermat tanpa mengurangi rasa kharisma yang ada pada dirinya, juga tetap menjaga mental atau perasaan kaum minoritas yang ada di sekitarnya.

B. DELEGASI
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia , delegasi berarti utusan, perwakilkan. Delegasi dapat diartikan pula sebagai pelimpahan wewenang dan tanggung jawab formal kepada orang lain untuk melaksanakan kegiatan tertentu. Delegasi wewenang adalah proses dimana manajer mengalokasikan wewenang kebawah kepada orang – orang yang melapor kepadanya.

Efektivitas delegasi merupakan faktor utama yang membedakan manajer sukses dan manajer tidak sukses. Empat kegiatan terjadi ketika delegasi dilakukan, yaitu :
1. pendelegasi menetapkan dan memberikan tujuan serta tugas kepada bawahan.
2. pendelegasi melimpahkan wewenang yang diperlukan untuk mencapai tujuan atau tugas
3. penerimaan delegasi, baik implisit maupun eksplisit menimbulkan kewajiban atau tanggung jawab.
4.pendelegasi menerima pertanggung jawaban bawahan untuk hasil – hasil yang dicapai.

Alasan – alasan pendelegasian yaitu :
a. pendelegasian memungkinkan manajer dapat mencapai lebih dari jika mereka menangani setiap tugas sendiri. Delegasi wewenang dari atasan ke bawahan merupakan proses diperlukan agar organisasi dapat berfungsi lebih efisien.
b. Delegasi juga memungkinkan manajer memusatkan tenaganya pada tugas – tugas prioritas yang lebih penting. Di lain pihak, delegasi memungkinkan bawahan untuk tumbuh lebih berkembang dan bahkan dapat digunakan sebagai alat untuk belajar dari kesalahan.
c. Delegasi dibutuhkan karena manajer tidak selalu mempunyai semua pengetahuan yang dibutuhkan untuk memahami masalah – masalah secara terperinci.

Sebelumnya kita harus dapat mengambil sutu kesepakatan dalam suatu organisasi. Pertama, pemimpin itu seharusnya seseorang yang paling cakap dan paling pintar. Kedua, para karyawan itu seharusnya dapat berdiri sendiri dan tidak perlu diperintah. Sehingga, seorang pemimpin diharapkan dapat mempengaruhi bawahan dan posisi bawahan diharapkan tanggap dengan kondisi pemimpin dan organisasi tersebut.

Mengapa manajer gagal mendelegasikan ?
1. manajer merasa lebih bila mereka tetap mempertahankan hak pembuatan keputusan.
2. manajer tidak bersedia menghadapi resiko bahwa bawahan akan melaksanakan wewenangnya dengan salah atau gagal
3. manajer tidak atau kurang mempunyai kepercayaan akan kemampuan bawahannya.
4. manajer merasa bahwa bawahan lebih senang tidak mempunyai hak pembuatan keputusan yhang luas.
5. manajer takut bahwa bawahan akan melaksanakan tugasnya dengan efektif sehingga posisinya sendiri terancam.
6. manajer tidak mempunyai kemampuan manajerial untuk mendelegasikan tugasnya.

Sebagai seorang pemimpin sebaiknya perlu dengan matang dan tepat untuk mengambil putusan, perlu atau tidaknya dibentuk delegasi dengan melihat segi negatif dan positif yang ada. Hal ini harus dikuasai oleh seorang pemimpin baik pada waktu yang sangat amat mendesak ataupun pada waktu yang relatif lama.
Sebagai contoh bahwa pada awal tahun 2005, terdapat dua WNI yng disandera kelompok bersenjata di Baghdad, Irak. Mereka adalah Meutya Hafid dan Budianto yang bekerja sebagai wartawan Metro TV yang sedang meliput perang di Irak. Dan pada pengalaman sebelumnya, akhir dari kejadian – kejadian seperti ini adalah pembunuhan yang sadis. Setelah mendengar kabar itu, intelijen negara segera melaporkan kepada presiden SBY. Setelah mengadakan rapat dadakan untuk permasalahan tersebut, muncul beberapa opsi untuk mengatasi masalah tersebut. Pertama, mengadakan operasi penyelamatan ke Baghdad – Irak. Kedua, mengutus pemuka agama  di Indonesia untuk bertemu atau minimal mengadakan teleconference dengan pemuka agama di Irak.lalu setelah mempertimbangkan segala baik buruknya, teknis dan non – teknisnya, presiden SBY mengambil putusan untuk membuat statement dan permohonan langsung seluruh rakyat Indonesia melalui presiden SBY sendiri.

Pada sat itu wartawan Al – Jazeera diundang langsung untuk merekam dan melihat langsung statement presiden SBY yang bertujuan untuk wartawan internasional Al – Jazeera dapat menyampaikan langsung kepada kelompok bersenjata yang menculik WNI melalui jaringan – jaringan milik Al – Jazeera.

Beberapa hari kemudian dua WNI dilepaskan dengan selamat. Hal ini menunjukkan bahwa presiden SBY sebagai pemimpin melakukan tindakan yang cepat, tepat dan cermat dalam membuat keputusan dan juga terbukti berhasil diterapkan pada situasi dan kondisi yang begitu mendesak.

Mengapa bawahan tidak menerima delegasi ?
1. delegasi berarti, bawahan menerima tugas tambahan dan tanggung jawab beserta dengan akuntabilitas. Kadang – kadang lebih mudah pergi ke manajer untuk memecahkan masalah daripada membuat keputusan sendiri.
2. selalu ada perasaan bahwa bawahan akan melaksanakan wewenang barunya dengan salah dan akhirnya menerima kritik, sanksi atau hukuman.
3. banyak bawahan kurang mempunyai kepercayaan diri dan merasa tertekan bila dilimpahi wewenang pembuatan keputusan yang lebih besar.

Penanggulangan hambatan – hambatan delegasi.
Persyaratan pertama adalah kesediaan manajemen untuk memberi kebebasan dalam melaksanakan tugas. Manajer harus menerima perbedaan dalam penyelesaian masalah dan resiko jika bawahan melakukan kesalahan. Kesalahan ini mengharuskan manajer untuk lebih giat dalam memberikan pelatihan.
Kedua, pengembangan komunikasi antara manajer seorang delegasi harus terjalin dengan baik dan terpercaya satu sama lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar